Ketika mengikuti perkuliahan di kampus, banyak karakter
dosen pemberi mata kuliah yang berbeda-beda. Dosen A seperti ini, dosen B beda
dari A, bahkan dosen C berbeda dari A dan B. Banyak sekali karakater perbedaanya,
terutama cara mengajar dan menyampaikan materi yang diajarkan dan ketika
ngobrol di luar kelas.
Dari sekian banyak dosen yang mengajar di kelas, tidak
sedikit yang sudah sampai menempuh gelar doktor, dengan kata lain sudah dan
sedang menempuh strata tiga (s3). Kenapa harus ada gelar yang dijadikan acuan
dan tolak ukur seorang dosen. Sebab gelar itu merupakan pencapaian tertinggi
yang pernah ditempuh ketika menjalani studinya.
Tak heran jika suatu ketika ada dosen yang jelas-jelas
mengatakan bahwa penulisan, peletakan, gelar untuk dirinya tidak boleh salah.
Sebab kalau salah maka nilai Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester
(UAS) tidak akan keluar. Sebagai mahasiswa kami merasa takut dan manut
saja, toh gelar itu memang buah kerja keras, tidak salahnya kita menghargai
kerja keras tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang (mesti tidak
semuanya) ketika memilih melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang pertama kali
dicari yaitu untuk mendapatkan gelar. Perjuangan untuk mendapatkan gelar itu
tidak mudah, butuh waktu, perjuangan dan konsentrasi tingkat tinggi.
Oleh karenanya, maka gelar tersebut adalah reward
atau hadiah dari kerja keras yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun. Tidak
salah memang ketika ada dosen yang meminta dan begitu mempersoalkan gelar yang
sudah diraihnya tersebut. Kerja keras yang sudah dijalaninya harus dihargai dan
diapresiasi.
Dalam kisah lain, tapi masih seputar tentang dosen juga.
Cerita singkatanya kurang lebih seperti ini. Kala itu salah seorang sahabat
(boleh disebut teman dekatlah) yang meminta bantuan untuk dibuatkan dsain
sertifikat acara pelatihan. Kebetulan sahabat ini juga sebagai panitia inti
dalam acara tersebut.
Setelah dsain dibuat dan dikirim, sahabat tadi mengirimkan
balasan. Inti tulisannya adalah meminta supaya gelar dosen yang menjadi
pimpinan di kantornya tersebut meminta dihapus. Padahal gelar yang sudah
dituliskan tidak bermasakah dan sesuai dengan semestinya. Ketika dikonfirmasi
langsung, “katanya buat apa sih pake gelar-gelar segala, tidak terlalu
penting”. Demikian jawaban yang saya terima dari salah seorang sahabat.
0 komentar:
Posting Komentar